ANDA INGIN DAPAT UANG

IKLAN

IKLAN

TENTANG SAYA

Makassar / Pinrang / Indonesia Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal

ASKEP PADA ANAK DENGAN KELAINAN HEMATOLOGI (ANEMIA) By Udin

ASKEP PADA ANAK
DENGAN KELAINAN HEMATOLOGI (ANEMIA)

A.Anemia
Anemia merupakan istilah umum untuk menguraikan penyakit yang berkaitan dengan suatu penurunan kadar hemoglobin kadar sirkulasi. Anemia dapat timbul sebagai akibat kehilangan darah, kerusakan eritrosit yang berlebihan, kekurangan sat besi yang disebutkan sebagai beberapa sebab utama saja
a.Anemia aplastik
Definisi :
Anemia aplastik dapat didefinisikan sebagai suatu kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsum tulang yang mengarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya unsur pembentuk darah dalam sumsum tulang.
Etiologi :
1.Faktor Kongenital
Sindrom fankoni yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti microsepali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan sebagainya
2.Faktor didapat
Bahan kimia : Benzena, insektisida, senyawa As, Au, Pb
Obat : Cloramfenikol, Mesantoin (anti konvulsan), piribenzamin (anti histamin), santonin/kalomel, obat sitostatika (mileran, metrotrexate, TEM, Vincristine, rubidomycine, dsb)
Radiasi : Sinar rontgen, radio aktif.
Faktor individu : Alergi terhadap obat, bahan kimia dll
Infeksi : Tuberculosis milier, hepatitis dab
Lain – lain : Keganasan, penyakit ginjal, gangguan endokrin.
Idiopatik : Merupakan penyebab yang paling sering.

Patofisiologi :
Anemia aplastik adalah gangguan akibat kegagalan sumsum tulang yang menyebabkan penipisan semua unsur sumsum. Produksi sel-sel darah menurun atau terhenti. Timbul pansitopenia dan hiposelularitas sumsum. Manifestasi gejala tergantung beratnya trombositopenia (gejala pendarahan), neutropenia (infeksi bakteri, demam) dan anemia (pucat, lelah, gagal jantung kongestif, tachi kardia). Prognosisnya gawat. 50 % pasien meninggal dalam 6 bulan setelah diagnosis. Prognosis pasien dengan lebih dari 70 % sel-sel nonhematopoetik adalah buruk.
Insidens :
1. Anemia aplastik dapat timbul pada senbarang usia
2. 50 % kasus bersifat idiopatik
3. Angka hidup jangka panjang dengan pencangkokan sumsum tulang dari dnor kompatibel secara histologik mencapai 70 – 90 % pada anak – anak
4. Angka kejadian anemia aplastik yang didapat adalah 1 dalam 1 jut, perbandingan penderita laki – laki perempuan adalah 1 : 1, dan dapat terjadi pada sembarang usia
5. Pada 75 % anak dengan anemia Fanconi, dignosisnya ditegakkan antara umur 3 dan 14 tahun : rasio laki – laki – perempuan dari anemia Fanconi adalah 1,3 : 1
Manifestasi klinis :
1.Petekia, echimosis, epistaksis (muncul lebih dulu)
2.Ulserasi oral, infeksi bakteri, demam (muncul kemudian)
3.Anemia, pucat, lelah, takhicardia (tanda lanjut)
4.Bercak CafĂ©-au-lait, hiperpigmentasi mirip – melanin, tanpa ibu jari (anemia Fanconi
Komplikasi :
1.Sepsis
2.Sensitisasi terhadap antigen donor yang bereaksi silang menyebabkan pendarahan yang tidak terkendali.
3. Cangkokan vs penyakit hospes ( timbul setelah pencangkokan sumsum tilang )
4. Kegagalan cangkok sumsum (terjadi setelah tramplantasi sumsum tulang)
5. Leukemia miologen akut-berhubungan dengananemia fanconi
Uji laboratoriun dan diagnostik :
1. Hitung darah lengkap disertai diferensial – anemia makrositik, penurunan granulosit, monosit dan limfosit
2. Jumlah trombosit – menurun
3. Jumlah retikulosit – menurun
4. Aspirasi & biopsi sumsum tulang – hiposelular
5. Elektroforesis hemoglobin – kadar hemoglobin janin meningkat
6. Titer antigen sel darah merah – naik
7. Uji gula air – positif
8. Uji Ham – positif
9. Kadar folat dan B12 serum – normal atau meningkat
10. Uji kerusakan kromosom – positif untuk anemia Fanconi
Penatalaksanaan Medis :
Pilihan utama pengobatan anemia aplastik adalah tranplantasi sumsum tulang dengan donor saudara kandung, yang antigen limfosit manusianya (HLA) sesuai. Imunoterapi dengan globulin anti timosit (ATG) atau globulin anti limfosit (ALG) adalah terapi primer bagi anak yang bukan calon untuk transplantasi sumsum tulang. Terapi penunjang mencakup pemakaian antibiotik dan pemberian produk darah. Antibiotika dipakai untuk mengatasi demam dan neutropenia, antibiotika profilaktif tidak diindikasikan untuk anak yang asimptomatik. Produk darah yang dapat diberikan adalah sbb :
1. Trombosit – untuk mempertahankan jumlah trombosit diatas 20.000/mm3. Pakai feresis trombosit donor tunggal untuk menurunkan jumlah antigen limfosit manusia yang terpajan pada anak itu.
2. Packed red blood cells – untuk mempertahankan kadar hemoglobin diatas g/dl (anemia kronik sering ditoleransi dengan baik) untuk terapi jangka panjang pakai deferoksamin sebagai agens pengikat ion logam untuk mencegah komplikasi kelebihan besi
3. Granulosit – ditransfusi ke pasien yang menderita sepsis gram negatif
Pengkajian Keperawatan :
1. Mengkaji tempat-tempat perdarahan dan gejala perdarahan
2. Mengkaji tingkat aktivitas
3. Mengkaji tingkat perkembangan
Diagnosa Keperawatan :
1. Risiko tinggi cedera
2. Risiko tinggi infeksi
3. Intoleransi aktivitas
4. Kelelahan
5. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
Intervensi Keperawatan :
1. Identifikasi dan laporkan tanda dan gejala perdarahan
 Tanda-tanda vital (denyut apex meningkat, nadi lemah dan cepat, TD menurun)
 Tempat perdarahan
 Warna kulit (pucat) dan tanda-tanda diaforesis
 Kelemahan
 Penurunan tingkat kesadaran
 Penurunan jumlah trombosit
2. Lindungi dari trauma
 Jangan beri aspirin atau obat-obat NSAID
 Hindari suntikan IM dan suppositoria
 Beri obat kontrasepsi untuk mengurangi menstruasi berlebihan
 Usahakan higiene mulut yang baik dengan sikat gigi lunak
3. Lindungi dari Infeksi
 Hindari kontak dengan sumber infeksi potensial
 Usahakan isolasi ketat (rujuk kebijakan dan prosedur RS)
4. Beri produk darah dan pantau respon anak terhadap infus (setelah transplantasi sumsum tulang untuk menghindari sensitisasi terhadap antigen transplantasi donor)
 Observasi adanya efek samping atau respons yang merugikan
 Observasi tanda-tanda kelebihan cairan
 Pantau tanda-tanda vital sebelum pemasangan infus, pantau selama 15 menit selama jam pertama dan kemudian setiap jam setiap infus terpasang
5. Berikan periode istirahat yang lebih sering. Berikan asuhan keperawatan untuk meningkatkan toleransi aktivitas dan mencegah kelelahan
6. Pantau respons terapeutik dan respon yang merugikan terhadap pengobatan, pantau kerja dan efek samping obat
7. Siapkan anak dan keluarga untuk transplantasi sumsum tulang
8. pantau tanda-tanda komlikasi trasplantasi sumsum tulang
9. Berikan aktivitas pengalih dan rekreasi sesuai usia
10. Berikan penjelasan sesuai usia sebelum pelaksanaan prosedur
Hasil yang diharapkan :
1. Anak berangsur-angsur mengalami peningkatan jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan akhirnya trombosit
2. Infeksi yang terjadi pada anak semakin sedikit
3. Episode perdarahan pada anak minimal
4. Anak dan keluarga memahami perlunya perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut.
b. Anemia Defisiensi Zat Besi
Definisi :
Merupakan anemia yang paling umum, zat besi merupakan unsur yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin, karena itu defisiensi zat besi akan mempengaruhi jumlah hemoglobin yang dapat diperoleh.
Etiologi :
Menurut patogenesisnya anemia defisiensi besi dibagi menjadi :
1. Masukan kurang : MEP, defisiensi diet relatif yang disertai pertumbuhan yang cepat
2. Absorbsi kurang : MEP, diare kronik, sindrom malabsorbsi lainnya
3. Sintesis kurang : tranferin kurang (hipotransferinemia kongenital)
4. Kebutuhan yang bertambah : infeksi, pertumbuhan yang cepat
5. Pengeluaran yang bertambah karena anchylostomiasis, amubiasis yang menahun, polip, hemolisis intravaskular kronis yang menyebabkan hemosiderinemia.
Patofisiologi :
Anemia defisiensi zat besi paling sering terjadi karena pengenalan makanan padat yang terlalu dini (sebelum usia 4-6 bulan) dihentikannya susu formula bayi yang mengandung zat besi atau ASI sebelum usia 1 tahun, dan minum susu sapi berlebihan tanpa tambahan makanan padat kaya besi. Bayi yang tidak cukup bulan, bayi dengan perdarahan perinatal yang berlebihan, atau bayi dari ibu yang kurang gizi dan kurang zat besi, juga tidak memiliki cadangan zat besi yang adekuat. Bayi ini berisiko lebih tinggi mengalami anemia defisiensi zat besi sebelum berusia 6 bulan. Anemia defisiensi zat besi dapat juga terjadi karena kehilangan darah yang kronik. Pada bayi, hal ini terjadi karena perdarahan usus kronik yang disebabkan oleh protein dalam susu sapi yang tidak tahan panas. Pada anak sembarang umur kehilangan darah sebanyak 1 – 7 ml dari saluran cerna setiap hari dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi. Pada remaja putri, anemia defisiensi zat besi juga dapat terjadi karena menstruasi yang berlebihan.
Insidens :
1. 3% - 24% bayi berusia 6 - 24 bulan menderita anemia defisiensi zat besi
2. 29% - 68% bayi berusia 6 – 24 bulan mengalami defisiensi zat besi
3. Insidensi defisiensi zat besi dan anemia defisiensi zat besi pada remaja putri adalah 11% - 17%
4. Puncak insidens anemia defisiensi zat besi adalah antara 12 – 18 bulan
Manifestasi Klinik :
1. Konjunctiva pucat (hemoglobin 6 – 10 g/dl)
2. Telapak tangan pucat (Hb dibawah 8 g/dl)
3. Iritabilitas dan anorexia (Hb 5 g/dl atau lebih rendah)
4. Takikardi, murmur sistolik
5. Pika
6. Lethargi, kebutuhan tidur meningkat
7. Kehilangan minat terhadap mainan atau aktivitas bermain
Komplikasi :
1. Perkembangan otak buruk
2. daya konsentrasi menurun
3. Hasil uji perkembangan menurun
4. Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun
Uji laboratorium dan Diagnostik :
1. Kadar porfirin eritrosit bebas – meningkat
2. Konsentrasi besi serum – menurun
3. Saturasi transferin – menurun
4. Konsentrasi feritin serum – menurun
5. Hemoglobin – menurun
6. Rasio hemoglobin – porfirin eritrosit – lebih dari 2,8 g/g adalah diagnostik untuk defisiensi besi.
7. Mean Corpuscle Volume (MCV) dan Mean Corpuscle Hemoglobin Concentration (MCHC) – menurun, menyebabkan anemia hipokrom mikrositik atau sel-sel darah merah yang kecil-kecil dan pucat
8. Selama pengobatan, jumlah retikulosit – meningkat dalam 3 –5 hari sesudah dimulainya terapi besi mengindikasikan respon terapeutik yang positif
9. Dengan pengobatan, hemoglobin – kembali normal dalam 4 – 8 minggu mengindikasikan tambahan besi dan nutrisi yang adekuat
Penatalaksanaan Medis :
Usaha pencegahan ditujukan pada pengobatan dan intervensi. Pencegahan tersebut mencakup menganjurkan ibu untuk memberikan ASI, makan makanan kaya zat besi dan, minum vitamin pranatal yang mengandung besi. Terapi untuk mengatasi anemia zat besi terdiri dari program pengobatan berikut : Zat besi diberikan per oral (PO) dalam dosis 2 – 3 mg per kg unsur besi. Semua bentuk zat besi sama efektifnya (ferosulfat, ferofumarat, ferosuksinat, feroglukonat). Vitamin C harus diberikan bersama zat besi (vitamin C meningkatkan absorbsi besi). Zat besi paling baik diserap bila iminum 1 jam sebelum makan. Terapi besi hendaknya diberikan sekurang-kurangnya selama 6 minggu setelah anemia dikoreksi untuk mengisi kembali cadangan besi. Zat besi yang disuntikkan jarang dipakai kecuali terdapat penyakit malabsorbsi usus halus.
Pengkajian Keperawatan :
1. Kaji reaksi anak terhadap terapi besi
2. Kaji tingkat aktivitas anak
3. Kaji tingkat perkembangan anak
Diagnosa Keperawatan :
1. Intolerans aktivitas
2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
3. Keletihan
4. Risiko tinggi perubahan pertumbuhan dan perkembangan

Intervensi Keperawatan :
1. Pantau efek terapeutik dan efek yang tidak diinginkan terhadap terapi zat besi pada anak
 Efek samping dari terapi oral (perubahan warna gigi) jarang terjadi
 Ajarkan tentang cara-cara mencegah perubahan warna gigi
- minum preparat besi dengan air, sebaiknya dengan jus jeruk
- berkumur setelah minum obat
 Anjurkan untuk meningkatkan makanan berserat dan air untuk mengurangi konstipasi dari zat besi
 Untuk mengatasi konstipasi berat akibat zat besi, cobalah untuk menurunkan dosis zat besi, tetapi memperpanjang lama pengobatan.
2. Ajarkan pada orangtua tentang asupan nutrisi yang adekuat
 Kurangi asupan susu pada anak
 Tingkatkan asupan daging dan pengganti protein yang sesuai
 Tambahkan padi-padian utuh dan sayur-sayuran hijau dalam diet
3. Dapatkan informasi tentang riwayat diet dan prilaku makan
 Kaji faktor-faktor yang menyebabkan defisiensi besi nutrisi psikososial, prilaku, dan nutrisional
 Buat rencana bersama orangtua tentang pendekatan-pendekatan kebiasaan makan yang dapat diterima
 Rujuk ke ahli gizi untuk evaluasi dan terapi intensif
4. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya, karena zat besi dari ASI mudah untuk diserap
Hasil yang diharapkan :
1. Warna kulit anak membaik
2. Pola tumbuh anak membaik
3. Tingkat aktivitas anak sesuai dengan usianya
4. Orangtua menunjukkan pemahamannya terhadap aturan pengobatan di rumah (pemberian obat, makanan kaya zat besi yang sesuai)
c. Anemia Sel Sabit
Definisi :
Anemia sel sabit adalah anemia dimana kondisi eritrosit mengandung bentuk hemoglobin yang abnormal (HbS) dengan rantai beta yang abnormal. Sebagai akibatnya mereka mengambil bentuk aneh (bersabit) jika tekanan oksigen menurun..
Etiologi :
Kelainan bawaan (kongenital) atau merupakan faktor yang didapat (acquired). Patofisiologi :
Defek dasar pada penyakit ini adalah adalah gen autosom yang mutan yang mempengaruhi penggantian valin dengan asam glutamat pada rantai hemoglobin. Sel darah merah pada pada anemia ini berbentuk sabit dan memiliki kemampuan yang kurang dalam hal membawa oksigen. Sel ini juga memiliki angka destruksi yang lebih besar dari sel darah normal. Jangka hidupnya menurun hingga 16 sampai 20 hari. Sel sabit sangat kaku, karena hemoglobinnya berbentuk gel, dehidrasi seluler, dan membrannya yang tidak fleksibel. Sel-sel ini menyebabkan terperangkap dalam sirkulasi dan membentuk lingkaran setan infark dan sickling yang progresif. Terdapat 3 jenis krisis : (1) oklusi pembuluh darah (sangat nyeri); (2) sekuestrasi limpa; dan (3) aplastik. Krisis sel sabit menurun frekuensinya sejalan dengan bertambahnya usia. Mortalitas pada tahun-tahun pertama umumnya disebabkan oleh infeksi dan krisis sekuestrasi.
Insidens :
1. Insidens penyakit sel sabit pada individu kulit hitam diperkirakan 1 dari 400
2. Sifat sel sabit terdapat pada satu dari setiap 10 orang Amerika berkulit hitam
3. 25% kematian terjadi sebelum berusia 5 tahun
4. Dengan pengobatan baru, 85% orang dengan gangguan ini dapat hidup sampai usia 20 tahun; 60%, diatas 50 tahun.`

Manifestasi Klinis :
1. Krisis oklusi pembuluh darah (krisis nyeri), terjadi akibat iskemia pada jaringan distal dari oklusi
 Iritabilitas
 Muntah
 Demam
 Anorexia
 Nyeri sendi
 Daktilitis (sindrom kaki dan tangan) – rentang gerak berkurang dan ekstremitas meradang
 Ulkus kaki
 Stroke
 Perdarahan okuler
 Retinopati proliferatif
 Sindrom dada akut
2. Krisis sekuestrasi (umumnya terlihat pada anak-anak yang berusia kurang dari 5 tahun), akibat seringnya terjadi infark dari sel-sel sabit (diikuti atrofi limpa)
 Pembesaran limpa yang cepat dan masif (splenomegali)
 Penurunan kadar hemoglobin yang cepat
 Pembesaran hati
 Kolaps sirkulasi dan syok
 Takikardia, dispnea, pucat dan kelemahan (umum)
3. Krisis aplastik, terjadi akibat destruksi yang cepat terhadap sel darah merah, terutama selama infeksi saat mekanisme kompensasinya mengalami depresi
 Kelemahan
 Membran mukosa pucat
 Ikterus pada sklera
 Anorexia
 Kerentanan terhadap infeksi meningkat
 Takikardia
 Jumlah retikulosit menurun
Komplikasi :
1. Kurang tidur
2. Pubertas tertunda
3. Fertilitas terganggu
4. Priapismus
5. Batu empedu
6. Ulkus tungkai
7. Penyakit jantung, hati dan ginjal menahun
8. Osteomielitis
9. Depresi, isolasi, dan rendah diri
10. Enuresis
11. Risiko tinggi ketergantungan obat
12. Hubungan anak – orangtua tegang
13. Stroke
Uji Laboratorium dan Diagnostik :
1. Elektroforesis hemoglobin, sebaiknya dilakukan pada saat lahir terhadap semua bayi sebagai bagian dari skrinning bayi baru lahir. Uji ini dapat menghitung persentase hemoglobin S yang ada
2. Darah atau sel fetus – uji ini memungkinkan penetapan diagnosis prenatal antara kehamilan minggu ke 9 dan 11
Penatalaksanaan Medis :
Meskipun sampai saat ini belum ditemukan obat untuk anemia sel sabit, tetapi penatalaksanaan medis yang dilakukan dapat mengurangi terjadinya krisis. Pemberian penicillin profilaktik untuk mencegah septikemia hendaknya dilakukan pada periode baru lahir. Imunisasi tambahan yang diperlukan adalah (1) vaksin pneumokokus saat berusia 2 tahun, dengan booster saat anak berusia 4 sampai 5 tahun dan (2) vaksin influensa
Program hipertransfusi bagia anak dengan riwayat stroke, penyakit paru progresif dan mungkin juga krisis vasooklusif berat (kontroversial), adalah pengobatan yang kini diberikan. Kelebihan besi menyebabkan besi tersebut mengendap pada organ-organ dengan komlikasi sebagai berikut : kardiomiopati, sirosis, diabetes tergantung insulin, hipotiroidisme, hipoparatiroidisme, pertumbuhan yang tertunda, dan perkembangan seks yang juga tertunda. Deferoksamin (Desferal) yang diberikan melalui subkutan atau transfusi, mengkelasi besi sehingga dapat dikeluarkan bersama urin atau empedu untuk membantu mengurangi komplikasi tersebut.
Analgesik dipakai untuk mengendalikan nyeri selama masa krisis. Antibiotik dapat dipakai, karena infeksi dapat memicu terjadinya krisis.
Pengkajian Keperawatan :
1. Kaji sistem kardiovaskulernya (nadi, thorax, tampilan umum, kulit dan edema)
2. Kaji sistem respirasinya ( bernapas, hasil auskultasi thorax, bentuk dan lingkar dada, tampiln umum)
3. Kaji tingkat nyeri anak
Diagnosa Keperawatan :
1. Perubahan perfusi jaringan : ginjal, serebrum, dan perifer
2. Nyeri
3. Risiko tinggi keletihan
4. Risiko tinggi infeksi
5. Risiko tinggi kelebihan volume cairan
6. Risiko tinggi cedera
7. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
8. Risiko tinggi koping keluarga tidak efektif : menurun
9. Risiko tinggi koping individu tidak efektif : menurun
10. Risiko tinggi penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif
Intervensi Keperawatan :
1. Cegah atau minimalkan efek dari krisis sel sabit :
 Sadari bahwa pengkajian dan penanganan dini adalah kunci pencegahan dan intervensi episode krisis
 Hindari dingin dan vasokonstriksi selama episode nyeri, dingin dapat meningkatkan sickling
 Berikan dan tingkatkan hidrasi (satu setengah sampai 2 kali didrasi rumatan)
(1) pertahankan dengan ketat asupan dan keluaran
(2) kaji adanya tanda-tanda dehidrasi
 tingkatkan oksigenasi jaringan : pantau adanya tanda-tanda hipoksia – sianosis; hiperventilasi; peningkatan denyut apeks; frekuensi napas dan tekanan darah; dan konfusi mental
2. Berikan periode istirahat yang sering untuk mengurangi pemakaian oksigen
3. Pantau penggunaan alat oksigen
4. Berikan dan pantau penggunaan produk darah dan terapi kelasi; kaji tanda-tanda reaksi transfusi demam, gelisah, disritmia jantung, menggigil, mual dan muntah, nyeri dada, urin merah atau hitam, sakit kepala, nyeri pinggang, dan tanda-tanda syok atau gagal ginjal
5. Pantau adanya tanda-tanda kelebihan cairan sirkulasi (overload)-dispnea, naiknya frekuensi pernapasan, sianosis, nyeri dada, dan batuk kering
6. Hilangkan atau minimalkan nyeri :
 Panas lembab untuk 24 jam pertama
 Whirpool atau walking tank, terutama jika terjadi pembengkakan
 Latihan terapeutik
 Pemberian anlgesik sesuai instruksi, berdasarkan pengkajian nyeri
 Penggunaan metoda nonfarmakologik seperti imajinasi terbimbing

7. Cegah infeksi
 Kaji adanya tanda-tanda infeksi – demam, malaise atau iritabilitas, serta jaringan lunak dan limfonodus yang meradang dan bengkak
 Sadari bahwa anak terutama rentan terhadap sepsis pneumokokus dan pneumonia (anak kurang dari 3 sampai 4 tahun) dan osteomielitis salmonela
8. Pantau adanya tanda-tanda komplikasi :
 Kolaps vaskuler dan syok
 Splenomegali
 Infark tulang dan persendian
 Ulkus tungkai
 Stroke
 Kebutaan
 Nyeri dada atau dispnea
 Pertumbuhan dan perkembangan yang tertunda
9. Beri penjelasan pada anak sesuai usia tentang perawatan di rumah sakit dan prosedur/tindakan
10. Beri dukungan emosional pada anak dan keluarga :
 Dorong agar anak melakukan aktivitas normal
 Dorong anak agar bekerjasama dengan anak-anak dan keluarga lain yang juga menderita anemia sel sabit
11. Anjurkan orang tua untuk melakukan skrining anggota keluarganya
 Skrining bayi baru lahir untuk hemoglobinopati
(1) identifikasi saat lahir memungkinan profilaksis dini terhadap infeksi
(2) pemakaian penicilin profilaktik dianjurkan untuk dimulai pada periode bayi baru lahir (berusia 4 bulan)
 Skrining saudara kandung terhadap penyakit dan pembawa sifat sel sabit
Hasil Yang Diharapkan :
1. Anak dan keluarga memahami pentingnya pemeriksaan tindak lanjut dan kapan harus meminta bantuan medis
2. Krisis oklusi pembuluh, sekuestrasi dan aplastik yang dialami anak minimal
3. Keluarga mencari konseling genetik bagi anak lainnya

B. Leukemia
Definisi :
Leukimia dalah proliferasi sel darah putih yang masih immatur dalam jaringan pembentuk darah
Etiologi :
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :
 Faktor genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (T cell leukemia – lymphoma virus / HTLV)
 Radiasi
 Obat-obat imunosupresif, obat-obat karsinogenik sperti diethylstilbestrol
 Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
 Kelainan kromosom, misalnya pada Down Syndrome
Patofisologi :
Leukemia diduga mulai sebagai suatu proliferasi lokal dari sel neoplastik, timbul dalam sumsum tulang dan limfe noduli (dimana limfosit terutama dibentuk) atau dalam lien, hepar dan tymus. Sel neoplastik ini kemudian disebarkan melalui aliran darah untuk kemudian tersangkut dalam jaringan pembentuk darah dimana mereka melanjutkan aktivitas proliferatif, menginfiltrasi banyak jaringan tubuh, misalnya tulang dan ginjal. Gambaran darah memperlihatkan sel yang imatur. Hal ini seringkali limfosit dan kadang-kadang mieloblast. Hitung sel normal 8000 – 11000/mm3.
 Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan paltelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositopenia
 Sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dannmudah mengalami infeksi
 Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang yang akan berdampak pada penurunan lekosit, eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan
 Adanya infiltrasi pada ekstra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe dan nodus limfe dan nyeri persendian
Insidens :
ALL (Acute Lymphoid, lymphocitic Leukemia)
1. Leukemia dalah jenis kanker anak yang paling umum terjadi; ALL bertanggung jawab untuk 80% kasus leukemia pada anak
2. Insidensi paling tinggi terjadi pada anak yang berusia antara 3 – 5 tahun
3. Anak perempuan menunjukkan prognosis yang lebih baik daripada anak laki-laki
4. Anak kulit hitam mempunyai frekuensi remisi yang lebih sedikit dan angka kelangsungan hidup (survival rate) rata-rata yang juga lebih rendah
ANLL (Acute Non Lymphoid Leukemia)
1. Tidak ada usia insidens puncak
2. ANLL mencakup 15% - 25% kasus leukemia pada anak
3. Risiko terkena penyakit ini meningkat pada anak yang mempunyai kelainan kromosom bawaan seperti down sindrom
4. Lebih sulit dari ALL dalam hal menginduksi remisi (angka remisi 70%)
5. Remisinya lebih singkat daripada anak-anak dengan ALL
6. 50% anak yang mengalami pencangkokan sumsum tulang memiliki remisi berkepanjangan

Manifestasi Klinis :
1. Pilek tidak sembuh-sembuh
2. Pucat, lesu, mudah terstimulasi
3. Demam dan anorexia
4. Berat badan menurun
5. Petechiae, memar tanpa sebab
6. Nyeri pada tulang dan sendi
7. Nyeri abdomen
8. Lymphedenopathy
9. Hepatoslenomegaly
10. Abnormal WBC
Komplikasi :
1. Sepsis
2. Perdarahan
3. Gagal organ
4. Iron Deficiency Anemia (IDA)
5. Kematian
Uji Laboratorium dan Diagnostik :
1. Pemeriksaan darah tepi : terdapat lekosit imatur
2. Aspirasi sumsum tulang (BMP) : hiperseluler terutama banyak terdapat sel muda
3. Biopsi sumsum tulang
4. Lumbal punksi untuk mengetahui apakah sistem saraf pusat terinfiltrasi
Penatalaksanaan Medis :
 Pelaksanaan kemoterapi
 Irradiasi kranial
Terdapat 3 fase pelaksanaan kemoterapi :
 Fase induksi : dimulai 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi kortikosteroid (prednison), vincristin, dan L-asparaginase. Fase induksi dinyatakan berhasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5 %
 Fase profilaksis sistem saraf pusat : pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan hydrocortison melalui intrathecal untuk mencegah invasi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat
 Konsolidasi : pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisi dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan dilakuakn pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat dikurangi.
Pengkajian Keperawatan :
1. Riwayat penyakit
2. Kaji adaya tanda-tanda anemia : pucat, kelemahan, sesak, napas cepat
3. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia : demam, infeksi
4. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : petechiae, purpura perdarahan membran mukosa; kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medula : limfadenopati, hepatomegali, splenomegali
5. Kaji adanya pembesaran testis, hematuria, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi disekitar rectal dan nyeri.
Diagnosa Keperawatan :
1. Risiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
2. Risiko injury; perdarahan berhubungan dengan perubahan faktor pembekuan
3. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan cancer cahexia
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian pemberian kemoterapi, radioterapi
6. Nyeri berhubungan dengan dilakukannya pemeriksaan diagnostik, efek fisiologis neoplasma
7. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan memiliki anak dengan kondisi yang mengancam kehidupan
8. Berduka berhubungan dengan kehilangan aktual/potensial
Intervensi Keperawatan :
1. Mencegah risiko infeksi
 Tempatkan anak dalam ruangan khusus untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi
 Anjurkan pengunjung atau staf melakukan tehnik mencuci tangan yang baik
 Gunakan tehnik aseptik untuk seluruh prosedur invasif
 Monitor tanda-tanda vital anak
 Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, masalah gigi
 Hindari penggunaan temperatur rectal, supositoria atau enema
 Berikan waktu yang sesuai antara aktivitas dan istirahat
 Berikan diet nutrisi secara lengkap
 Berikan vaksinasi dari virus yang tidak diaktifkan (misalnya varicella, polio salk, influenza)
 Monitor penurunan jumlah leukosit yang menunjukkan anak memiliki risiko yang besar untuk terkena infeksi
 Kolaborasi untuk pemberian antibiotik
2. Mencegah risiko injury; perdarahan
 Evaluasi kulit dan membran mukosa setiap hari
 Laporkan setiap tanda-tanda terjadi perdarahan (tekanan darah menurun, denyut nadi cepat, pucat diaforesis, meningkatnya kecemasan)
 Periksa setiap urin atau tinja terhadap adanya tanda-tanda perdarahan
 Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
 Gunakan sikat gigi yang lembut atau lunak dan oral hygiene
 Hindari untuk pemberian aspirin
 Lakukan pemeriksaan darah secara teratur
 Kaji adanya tanda-tanda terlibatnya sistem saraf pusat (sakit kepala, penglihatan kabur)
3. Mencegah risiko kurangnya volume cairan
 Berikan antiemetik awal sebelum dilakukan kemoterapi
 Berikan antiemetik seara beraturan pada waktu program kemoterapi
 Kaji respon anak terhadap antiemetik
 Hindari memberikan makanan yang memiliki aroma yang merangsang mual atau muntah
 Anjurkan makan dengan porsi kecil tapi sering
 Kolaborasi untuk pemberian cairan infus untuk mempertahankan hidrasi
4. Memberikan nutrisi yang adekuat
 Berikan dorongan pada orang tua untuk tetap rileks pada saat anak makan
 Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi padasaat selera makan anaka meningkat
 Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
 Ijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
5. Mencegah kerusakan integritas kulit
 Kaji secra dini tanda-tanda kerusakan integritas kulit
 Berikan perawatan kulit khususnya daerah perianal dan mulut
 Ganti posisi dengan sering
 Anjurkan intake dengan kalori dan protein yang adekuat
6. Mencegah atau mengurangi nyeri
 Kaji tingkat nyeri dengan skala nyeri
 Kaji adanya kebutuhan klien untuk mengurangi rasa nyeri
 Evaluasi efektivitas terapi pengurangan rasa nyeri dengan melihat derajat kesadaran dan sedasi
 Berikan tehnik mengurangi rasa nyeri nonfarmakologi
 Berikan pengobatan anti nyeri secara teratur untuk mencegah timbulnya nyeri berulang
7. Meningkatkan peran keluarga :
 Jelaskan laasan dilakukannya setiap tindakan
 Hindari untuk menjelaskan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada
 Jelaskan orang tua tentang proses penyakit
 Jelaskan seluruh tindakan yang dapat dilakukan oleh anak
 Jadualkan waktu bagi keluarga dan anak bersama-sama tanpa diganggu oleh staf RS
 Dorong keluarga untuk mengekspresikan perasaannya sebelum anak didiagnosis menderita keganasan dan prognosis anak buruk
 Diskusikan dengan keluarga bagaimana mereka akan mengatakan kepada anak tentang pengobatan anak dan kemungkinan terapi tambahan
8. Antisipasi berduka
 Kaji tahapan berduka pada anak/keluarga
 Berikan dukungan pada respon adaptif yang diberikan klien, ubah respon maladaptif
 Luangkan waktu bersama anak untuk memberikan dukungan pada anak agar mengekspresikan perasaannya atau ketakutannya
 Fasilitasi anak untuk mengekspresikan perasaannya melalui bermain
Hasil yang diharapkan :
1. Anak mencapai remisi
2. Anak bebas dari komplikasi penyakit
3. Anak dan keluarga mempelajari tentang koping yang efektif untuk menghadapi hidup dan penatalaksanaan penyakit tersebut

C. Thalasemia
Definisi :
Thalasemia adalah suatu gangguan darah yang diturunkan ditandai oleh defisiensi produksi rantai globin pada hemoglobin terutama rantai beta, kendatipn dapat mempengaruhi juga rantai alfa. Kondisi ini dapat homozigot (talasemia rantai alfa) yang ketal in utero, menyebabkan hidrops fetalis, atau heterozigot (talasemia rantai beta) yang secara relatif merupakan kondisi jinak.
Etiologi :
Faktor genetik
Patofisiologi :
 Normal Hb adalah terdiri dari Hb-A dengan 2 polipeptida rantai alfa dan 2 rantai beta
 Pada beta thalasemia yaitu tidak adanya atau kurangnya rantai beta dalam molekul hemoglobin yang mana ada gangguan kemampuan eritrosit membawa oksigen
 Ada suatu kompensator yang meningkat dalam rantai alpa, tetapi rantai beta memproduksi secara terus menerus sehingga menghasilkan hemoglobin defective. Ketidakseimbangan polipeptida ini memudahkan ketidakstabilan dan desintegrasi. Hal ini menyebabkan sel darah merah menjadi hemolisis dan menimbulkan anemia dan atau hemosiderosis
 Kelebihan pada rantai alpa ditemukan pada thalasemia beta dan kelebihan rantai beta dan gamma ditemukan pada thalasemia alpa. Kelebihan rantai polipeptida ini mengalami presipitasi dalam sel eritrosit. Globin intra-eritrositik yang mengalami presipitasi, yang terjadi sebagai rantai polipeptida alpa dan beta, atau terdiri dari hemoglobin tak stabil – badan Heinz, merusak sampul eritrosit dan menyebabkan hemolisis
 Reduksi dalam hemoglobin menstimulasi bone marrow memproduksi RBC yang lebih. Dalam stimulasi yang konstan pada bone marrow, produksi RBC diluar menjadi eritropoetik yang aktif. Kompensator produksi RBC secara terus menerus pada suatu dasar kronik, dan dengan cepatnya destruksi RBC, menimbulkan tidak adekuatnya sirkulasi hemoglobin. Kelebihan produksi dan destruksi RBC menyebabkan bone marrow menjadi tipis dan mudah pecah atau rapuh.
Manifestasi Klinis :
1. Letargi
2. Pucat
3. Kelemahan
4. Anorexia
5. Sesak napas
6. Tebalnya tulang kranial
7. Pembesaran limpa
8. Menipisnya tulang kartilago
9. Dysritmia
Komplikasi :
1. Fraktur patologi
2. Hepatosplenomegali
3. Gangguan tumbuh kembang
4. Disfungsi organ
Uji Laboratorium dan Diagnostik :
1. Studi hematologi : terdapat perubahan-perubahan pada sel darah merah yaitu mikrositosis, hipokromia, anisositosis, poikilositosis, sel target eritrosit yang imatur, penurunan hemoglobin dalam hematokrit
2. Elektroforesis hemoglobin : peningkatan hemoglobin F dan A2
Penatalaksanaan Medis :
1. Pemberian transfusi hingga Hb mencapai 10 g/dl. Komplikasi dan pemberian transfusi darah yang berlebihan akan menyebabkan terjadi penumpukan zat besi yang disebut hemosiderosis. Hemosiderosis dapat dicegah dengan pemberian deferoxamine (Desferal)
2. Splenectomy : dilakukan untuk mengurangi penekanan pada abdomen dan meningkatkan rentang hidup sel darah merah yang berasal dari suplemen (transfusi)
Pengkajian Keperawatan :
1. Pengkajian Fisik :
 Riwayat keperawatan
 Kaji adanya tanda-tanda anemia (pucat, lemah, sesak, napas cepat, hipoxia kronik, nyeri tulang dan dada, menurunnya aktivitas, anorexia), epistaksis berulang
2. Pengkajian Psikososial
 Anak : usia, tugas perkembangan psikososial (Erikson), kemampuan beradaptasi dengan penyakit, mekanisme koping yang digunakan)
 Keluarga : respon emosional keluarga, koping yang digunakan keluarga, penyesuaian keluarga terhadap stress
Diagnosa Keperawatan :
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komponen seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen/zat nutrisi ke sel
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya selera makan
4. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan dampak penyakit anak terhadap fungsi keluarga

Intervensi :
1. Perfusi jaringan adekuat
 Memonitor tanda-tanda vital, pengisian kapiler, warna kulit, membran mukosa
 Meninggikan posisi kepala di tempat tidur
 Memeriksa dan mendokumentasikan adanya rasa nyeri
 Observasi adanya keterlambatan respon verbal, kebingungan atau gelisah
 Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya rasa dingin
 Mempertahankan suhu lingkungan agar tetap hangat sesuai kebutuhan tubuh
 Memberikan oksigen sesuai kebutuhan
2. Mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitas
 Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak
 Memonitor tanda-tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah atau nafas cepat)
 Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika terjadi gejala-gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, napas cepat, pusing atau kelelahan
 Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai kemampuan anak
 Mengajarkan kepada orang tua teknik memberikan reinforcement terhadap partisipasi anak di rumah
 Membuat jadual aktivitas bersama anak dan keluarga dengan melibatkan tim kesehatan lain
 Menjelaskan dan memberikan rekomendasi kepada sekolah tentang kemampuan anak dalam melakukan aktivitas, memonitor kemampuan melakukan aktivitas secara berkala dan menjelaskan kepada orang tua dan sekolah
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat
 Mengijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat
 Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
 Mengijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
 Mengevaluasi berat badan anak setiap hari
4. Keluarga akan mengatasi dan dapat mengendalikan stress yang terjadi pada keluarga
 Memberikan dukungan pada keluarga dan menjelaskan kondisi anak sesuai realita yang ada
 Membantu orang tua untuk mengembangkan strategi untuk melakukan penyesuaian terhadap krisis akibat penyakit yang diderita anak
 Memberikan dukungan kepada keluarga untuk mengembangkan harapan realistis terhadap anak
 Menganalisa sistem yang mendukung dan penggunaan sumber-sumber di masyarakat (pengobatan, keuangan, sosial) untuk membentu proses penyesuaian keluarga terhadap penyakit anak
Hasil yang diharapkan :
1. Anak menunjukkan tanda-tanda perfusi jaringan yang adekuat
2. Anak akan toleran terhadap aktivitas
3. Anak akan menunjukkan tanda-tanda terpenuhinya kebutuhan nutrisi
4. Keluarga dapat mengatasi dan mengendalikan stress


D. Demam Berdarah Dengue (DHF)
Definisi :
Demam berdarah Dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty.
Etiologi :
Virus dengue sejenis arbovirus
Patofisiologi :
 Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan kemudian akan bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus – antibodi, dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, 2 peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu
 Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protrombin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF
 Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Renjatan terjadi secara akut
 Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anorexia jaringan, asidosis metabolik dan kematian
Klasifikasi DBD :
 Derajat I : demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji tourniket positif, trombositopenia dan hemokonsentrasi
 Derajat II : derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain
 Derajat III : kegagalan sirkulasi, nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin, lembab, gelisah
 Derajat IV : renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat diukur
Manifestasi Klinis :
 Demam tinggi selama 5 – 7 hari
 Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit; petechie, echimosis, hematoma
 Epistaksis, hematemesis, melena, hematuri
 Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi
 Nyeri otot, tulang sendi, abdomen dan ulu hati
 Sakit kepala
 Pembengkakan sekitar mata
 Pembesaran hati, limpa dan kelenjar getah bening
 Tanda-tanda renjatan (cyanosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari 2 detik, nadi cepat dan lemah)
Uji Laboratorium dan Diagnostik :
 Darah lengkap : hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20% atau lebih), trombositopenia (100.000/mm3 atau kurang)
 Serologi : uji HI (hemaaglutination inhibition test)
 Rontgen thorax : efusi pleura
Penatalaksanaan Medis :
 Minum banyak 1,5 – 2 liter/24 jam dengan air the, gula, atau susu
 Antipiretik jika terdapat demam
 Antikonvulsan jika terdapat kejang
 Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung meningkat
Pengkajian Keperawatan :
 Kaji riwayat keperawatan
 Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda renjatan (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran)
Diagnosa Keperawatan :
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah, dan demam
2. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan
4. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak
5. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus
Intervensi Keperawatan :
1. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan :
 Mengobservasi tanda-tanda vital paling sedikit setiap 4 jam
 Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun-ubun cekung, produksi urin menurun
 Mengobservasi dan mencatat intake dan output
 Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh
 Memonitor nilai laboratorium : elektrolit darah, BJ urin, serum albumin
 Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh
 Mempertahankan intake dan output yang adekuat
 Memonitor dan mencatat berat badan
 Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam
 Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (IWL)


2. Perfusi jaringan adekuat
 Mengkaji dan mencatat tanda-tanda vital (kualitas dan frekuensi denyut nadi, tekanan darah, capillary refill)
 Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ekstremitas (suhu, kelembaban, dan warna)
 Menilai kemungkinan terjadinya kematian jaringan pada ekstremitas seperti dingin, nyeri, pembengkakan kaki
3. Kebutuhan nutrisi adekuat
 Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat
 Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
 Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan tehnik porsi kecil tetapi sering
 Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan skala yang sama
 Mempertahankan kebersihan mulut pasien
 Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit
4. Mensupport koping keluarga adaptif
 Mengkaji perasaan dan persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap situasi yang penuh stress
 Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang lebar dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan keluarga
 Identifikasi koping yang biasa digunakan dan seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan
 Tanyakan kepada keluarga apa yang dapat dilakukan untuk membuat anak/keluarga menjadi lebih baik, dan jika memungkinkan memberikan apa yang diminta oleh keluarga
 Memenuhi kebutuhan dasar anak; jika anak sangat tergantung dalam melakukan aktivitas sehari-hari, ijinkan hal ini terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama kemudian secara bertahap meningkatkan kemandirian anak dalam memenuhi kebutuhan dasarnya
5. Mempertahankan suhu tubuh normal
 Ukur tanda-tanda vital : suhu
 Ajarkan keluarga dalam pengukuran suhu
 Lakukan tepid sponge (seka) dengan air biasa
 Tingkatkan intake cairan
 Berikan terapi untuk menurunkan suhu
Hasil yang diharapkan :
1. Anak dapat menunjukkan tanda terpenuhinya kebutuhan cairan
2. Anak dapat menunjukkan tanda perfusi jaringan perifer yang adekuat
3. Anak menunjukkan kebutuhan nutrisi yang adekuat
4. Keluarga menunjukkan koping yang adaptif
5. Anak menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal

DAFTAR PUSTAKA

Betz L. Cecily, Sowden A. Linda, 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3.
EGC : Jakarta

Suriadi, Yuliani. Rita, 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi 1. EGC : Jakarta

Sacharin, M. Rosa, 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. EGC : Jakarta

Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Cetakan keempat. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fak. Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

2 Response to "ASKEP PADA ANAK DENGAN KELAINAN HEMATOLOGI (ANEMIA) By Udin"

  1. Anonim Says:
    3 Januari 2011 10.25

    awesome blog, do you have twitter or facebook? i will bookmark this page thanks. lina holzbauer

  2. khaeruddin,S.Kep,Ns says:
    20 Juli 2011 15.35

    thx....my FB.rudy_cin@yahoo.co.id